Rabu, 30 November 2011

POLITIK PERDAGANGAN VOC


Dalam dunia perdagangan politik perdagangan atau dalam istilah ekonomi disebut proteksi memang sudah hal yang biasa terjadi dalam dunia perdagangan, baik dalam skala lokal domestik maupun internasional. Pada masa penjajahan Indonesia oleh Belanda, Belanda pun dalam melancarkan aksinya menggunakan strategi politik perdagangan. Dalam hal ini VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai peran dalam menjalankan politik perdagangannya di Indonesia. Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misalkan VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.
            Dalam menjalankan kegiatannya di Indonesia, VOC menghadapi suatu dunia perdagangan internasional dengan sistem terbuka. Objek utama dalam politik perdagangannya di Indonesia adalah rempah-rempah, akan tetapi tidak terpisah juga dengan perdagangan beras, sagu, kain, dan komoditi lainnya. Perdagangan bangsa Belanda di Indonesia dan di Asia pada umumnya tidak berbeda dari perdagangan bangsa-bangsa lainnya. VOC merupakan kongsi dagang di antara kongsi dagang lain milik bangsa Gujarat, Iran, Turki, Tionghoa, dan Indonesia sendiri.
            Dinamika perdagangan di Indonesia pada waktu itu memang rumit, Indonesia yang kaya akan rempah-rempah dan beraneka ragam komoditi lainnya menjadi sorotan bagi bangsa Barat. Selain itu bangsa Gujarat dan Benggali juga ikut serta dalam arus perdagangan. Pedagang dari Gujarat dan Benggali mendatangkan bahan kain. Hal ini terjadi sebelum kedatangan bangsa Barat. Kemudian dengan adanya keadaan tersebut sebagian fungsi jatuh ketangan Portugis.
            Garis Malaka-Maluku menjadi dua basis pemusatan perdagangan dan pelayaran yang mempunyai fungsi yag sangat strategis. Garis Malaka-Maluku secara struktural merupakan sistem yang berfungsi secara optimal. Maka kemudian tumbuhlah subsistem-subsistem dengan pusat-pusat kecil sebagai pendukung dan komplemen dalam sistem tersebut. Dalam menghadapi sistem tersebut, maka VOC dalam usahanya menguasai perdagangan rempah-rempah, menduduki kedua basis tersebut, Maluku dahulu serta Malaka kemudian. Dalam melancarkan usahanya tersebut VOC juga menentukan alternatif lain sebagai pengganti Malaka, yaitu Batavia.
            Dalam usahananya, VOC menghadapi kesulitan menerobos sistem perdagangan yang berlaku. Dengan kontrak-kontrak hendak diperoleh monopoli, namun selama tidak ada dukungan kekuatan politik maka tidak akan berjalan pelaksanaannya. Di kalangan VOC sendiri banyak yang menentang penggunaan kekerasan. Namun pada kenyataannya VOC memang menjalankan politik dagang secara kejam yang merugikan rakyat Indonesia. Selain itu VOC juga ingin mengeksploitasi segala komoditi yang ada, khususnya rempah-rempah.
            Dengan adanya kesulitan tersebut, jalan radikal untuk merebut monopoli ialah melarang semua pengangkutan barang dagangan Portugis dengan kapal pribumi, kemudian semua ekspor rempah-rempah dihentikan, bahkan yang lebih drastis lagi yaitu pohon-pohon pala dan cengkeh ditebangi. Selain itu juga ada saran untuk mengikuti jejak Portugis yaitu menukar rampah-rempah dengan bahan pakaian dan bahan makanan. Selain itu juga ada politik radikal lain yang dipertimbangkan, yaitu untuk membatasi dan mengendalikan pedagangan Asia seperti yang telah dijalankan bangsa-bangsa Asia dan Portugis sejak lama. Namun hal tersebut terbentur dengan kelemahan angkutan VOC yang serba kekurangan awak kapal, amunisi, dan kapal sehingga tidak dapat mengawasi dan memberlakukan sanksinya.
            VOC memang menjalankan politik dagang secara kejam. Mereka juga memerangi (membunuh) para pendatang Portugis, Spanyol, dan Inggris yang mencoba mencari rempah-rempah. Kapal-kapal mereka ditenggelamkan di laut dan menghukum secara keras para penyelundup yang mencoba melakukan perdagangan rempah-rempah secara tidak resmi dengan pihak di luar VOC.
            Pembelian rempah-rempah dengan mata uang logam ternyata merugikan VOC. Rakyat menabung hasil penjualannya, dan dengan mata uang tabungan mereka membeli bahan pakaian dari Portugis atau edagang bangsa lain. Karena keuntungan VOC dari penjualan bahan pakaian tesebut, maka politik itu akan memukul dirinya sendiri, karena rakyat lebih memilih membeli bahan pakain ke Portugis. Untuk mengatasi hal tersebut kemudian diboronglah bahah tersebut lebih dulu dari Inggris dan Portugis.
            Akan tetapi hal tersebut juga tidak menguntungkan karena persediaan remah-rempah yag menunggu pengangkutan masih banyak. Langkah lain untuk mengatasi hal ini adalan dengan memblokir Selat Malaka dan perdagangan Portugis. Dengan adanya keadaan tersebut maka akan menguntungkan bangsa Barat lainnya, pedagang Jawa, Gujarat yang bebas dari persaingan Portugis dan mereka dapat bergerak secara leluasa.
            Penggunaan kekerasan dalam politiknya mulai terlihat pada prakteknya di kepulauan Banda. Sewaktu diketahui bahwa kontrak rakyat Banda dengan VOC tidak diindahkan dan masih melakukan perdagangan dengan pedagang Asia. Para direktur VOC menganjurkan agar rakyat Banda dimusnahkan dan pulau Banda tersebut kemudian ditempati oleh penduduk lain. Selain itu ketetapan harga juga ditentukan sepihak oleh VOC, hal tersebut bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku yaitu tawar-menawar.
            Untuk melancarkan anjuran para direktur VOC, kemudian pada waktu mau memonopoli rempah-rempah di kawasan Timur Indonesia mereka menjalankan praktek politik dagang dengan cara membuang, mengusir, dan membantai seluruh penduduk Pulau Banda pada tahun 1620. Pulau itu kemudian kosong sehingga isinya cuma kebun-kebun cengkeh, pohon-pohon pala, dan tanaman-tanaman yang menjadi komiditas dagang orang-orang Belanda di pasaran Eropa. Penduduknya kemudian diganti oleh orang-orang Belanda pendatang yang mempekerjakan para budak sebagai buruh kasar perkebunan.
            Politik monopoli VOC ternyata tidak menjamin adanya keuntungan yang besar, pada waktu itu kondisi perdagangan di Eropa menunjukkan pasaran rempah-rempah yang membanjir, sehingga merosotkan harga penjualan disana. Menghadapi keadaan tersebut maka VOC berusaha mengalihkan kegiatan perdagangannya ke perdagangan komoditi di Asia. Selain itu VOC juga mencoba menarik perdagangan pribumi dan bangsa Asia ke pusat-pusat yang dikuasainya, seperti Batavia dan Ambon, dengan tujuan menarik pajak dan keuntungan lainnya.
            Penetrasi VOC dalam jaringan perdagangan di Indonesia memang membawa konflik-konflik dengan pusat-pusat perdagangan yang memegang peranan penting dalam stasiun tengah jalan antara Maluku dan Malaka. Salah satu urat nadi dalam sistem itu ialah perdagangan beras dan bahan makanan yang terutama dipegang oleh pedagang Jawa, khususnya pada abad XVII dari Gresik-Jaratan dan surabaya. Dengan adanya keadaan tersebut maka kemudian VOC memiliki pandangan bahwa dominasi pedagang Jawa itu perlu dipatahkan.
            Perdagangan di Indonesia kemudian menimbulkan hubungan yang erat dalam proses Islamisasi daerah. Yang erat hubungannya dalam hal ini adalah perlawanan terhadap penetrasi bangsa Barat, yang dibarengi ooleh proses Kristianisasi. Kegiatan politik perdagangan VOC di Indonesia melibatkan beberapa daerah, seperti Maluku, Banda, Gresik, Jaratan, Surabaya, Ambon, Makassar, Jambi, Jepara, Batavia (Jakarta), dan Banten. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang menyimpan banyak komoditi.
            Penetrasi VOC dalam jaringan perdagangan Indonesia dalam bagian pertama abad XVII menghadapi juga persaingan. Yaitu perlawanan dari pedagang Asia non Indonesia, seperti Gujarat, Keling, Benggali, dan Cina. Komoditi yang mereka kuasai ternyata mempunyai nilai tukar tinggi di Indonesia maka haalhandel ternyata sangat menguntungkan, sering melebihi perdagagan rempah-rempahnya. Kedua jenis perdagangan tersebut terjalin erat satu sama lain sehingga politik monopoli VOC dalam rempah-rempah mau tak mau diperluas mencakup komoditi-komoditi dari perdagangan Asia.
            Sejajar dengan perluasan perdagangannya, VOC beroperasi dengan angkatam kapal dagang yang bertambah besar. Diantara angkatan kapal tersebut ada kapal-kapal yang berhenti di Batavia sambil menunggu keberangkatannya ke Nederland. Namun dibandingkan dengan tonage angkatan kapal lainnya, perkapalan VOC tidak terlalu besar volume angkatannya.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Vereenigde_Oostindische_Compagnie
Kartodirdjo, Sartono. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: PT. Gramedia

1 komentar: