Shofi'is Blog

PENGUNJUNG BLOG YANG TERHORMAT, APABILA INGIN MENGUTIP INFORMASI ATAUPUN ARTIKEL DARI BLOG INI DIMOHON UNTUK MECANTUMKAN BLOG INI SEBAGAI SUMBER ACUAN ATAU REFERENSI, TERIMAKASIH

Rabu, 30 November 2011

PENEMUAN CANDI BARU, CANDI MIYONO DI KAYEN PATI

Berawal  dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (BALAR Yogyakarta) pada tanggal 4 Mei 2011 di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah;  tim yang dipimpin oleh dra. TM. Rita Istari dengan anggota Hery Priswanto, SS. , Agni Sesaria Mochtar, SS.  dan Ferry Bagus  berhasil mengidentifikasikan beberapa temuan Benda Cagar Budaya (BCB) yaitu di antaranya struktur bata yang masih intact, arca  serta beberapa artefak dari logam dan keramik. Kedatangan tim Balai Arkeologi Yogyakarta ini atas laporan dari warga sekitar Situs Kayen yang di wakili oleh Nur Rohmad (Pengurus Makam Ki Gede Miyono) dan Subono (Kepala Desa Kayen) mengenai tindak lanjut mengenai keberadaan Situs Kayen.

Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 1110 00’ 17,0” BT   060 54’ 31.8”  LS  berada di dataran alluvial yang cukup datar dan Pegunungan Kendeng di Selatannya. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron  yang berhulu di Pegunungan kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang.
Sebenarnya temuan di Situs Kayen ini sudah dijumpai pada bulan agustus 2010, ketika penduduk setempat berniat membangun mushola di sebelah barat makam Ki Gede Miyono menemukan bata-bata kuna yang berukuran besar. Pembangunan mushola ini bertujuan diperuntukkan tempat ibadah bagi para peziarah makam Ki Gede Miyono. Oleh penduduk setempat, beberapa bata kuna tersebut dimanfaatkan untuk membangun Makam Ki Gede Miyono. Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak Disbudpora Kabupaten Pati  berkoordinasi dengan BP3 Jawa Tengah untuk mengidentifikasikan temuan tersebut.
Identifikasi temuan Benda Cagar Budaya  BALAR Yogyakarta yang telah dilakukan tidak jauh berbeda hasilnya dengan BP3 Jawa Tengah yaitu :
·         Monumen (bangunan)
Struktur berbahan bahan bata yang masih intact dan terpendam dalam tanah, beberapa temuan bata-bata kuna berukuran tebal 8 – 10 cm, lebar 23 – 24 cm, dan panjang 39 cm, serta komponen bagian dari candi seperti antefiks dan kemuncak di sekitar situs diduga merupakan bangunan candi.
·         Artefaktual
1.      Berbahan bata
·         Wadah peripih
·         antefiks
·         kemuncak candi
·         bata candi berpelipit
·         bata bertulis
2.      Berbahan batu putih
·         Arca Mahakala
·         Umpak
·         Kemuncak candi
3.      Berbahan logam
·         Darpana (cermin berbentuk bundar atau lonjong dgn tangkai yg dipahat dgn bagus)
·         Piring
·         Lampu gantung


4.      Berbahan keramik
·         Mangkuk
·         Buli-buli
·         Piring
·         Cepuk bertutup
Berdasarkan hasil peninjauan Tim Balai Arkeologi Yogyakarta di Situs Kayen diperoleh kesimpulan bahwa temuan BCB di Situs Kayen mempunyai nilai arkeologi dan kesejarahan yang cukup tinggi dalam kaitan penyusunan historiografi di Indonesia, terutama temuan struktur bata yang diduga sebagai candi ini merupakan temuan baru karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura). Temuan candi berbahan bata sejenis banyak dijumpai di wilayah pedalaman Jawa seperti di poros Kedu – Prambanan dan Trowulan.

Rekomendasi akhir dari kegiatan peninjauan tim BALAR Yogyakarta yaitu dipandang perlu untuk melakukan kegiatan research excavation di Situs Kayen. Tujuan dan sasaran kegiatan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui luas bangunan candi, kronologinya, serta karakter Situs Kayen. Kegiatan ini penelitian perlu dukungan berbagai pihak antara lain BP3 Jawa Tengah, Disbudpora Kabupaten Pati, media publikasi, serta warga sekitar situs.

Temuan Piramida di Garut Harus Dibuktikan Secara Ilmiah

Anggota DPR daerah pemilihan Jawa Barat III Otong Abdurrahman mengaku bangga dengan temuan struktur piramida di Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Kendati demikian, menurutnya, penemuan itu harus bisa diperatanggungjawabkan secara ilmiah. "Dinas Parawisata atau kepurbakalaan Kabupaten Garut harus turun tangan atau memanggil pihak-pihak yang benar-benar berkompeten di bidangnya," kata Otong saat dihubungi wartawan, Rabu (30/11/2011).


Putra asli kelahiran Garut ini mengatakan ini adalah kekayaan sejarah bangsa Indonesia. Namun jika tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh pihak yang berkompeten, dikhawatirkan akan disalah artikan oleh masyarakat.


"Bagi Pemda Jawa Barat, penemuan ini harus benar-benar di respon. Jika memang itu benar, maka pemda yang disupervisi oleh pusat harus merawatnya dan jika perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan," tegasnya. Tambahnya, gunung Sadahurip yang mirip piramida di Mesir bisa membangun jatidiri baik secara lokal Kabupaten Garut maupun nasional. Ini bisa menjadi sebuah awal kebangkitan sejarah yang ada di Kabupaten Garut. "Jika benar, maka langkah-langkah awal harus segera dipersiapkan. Kemudian bagaimana cara merawatnya, persiapan anggaran. Pemda harus cepat bergerak, saya juga minta tokoh-tokoh Jawa Barat untuk ikut memperhatikan penemuan sejarah ini," tandas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

POLITIK PERDAGANGAN VOC


Dalam dunia perdagangan politik perdagangan atau dalam istilah ekonomi disebut proteksi memang sudah hal yang biasa terjadi dalam dunia perdagangan, baik dalam skala lokal domestik maupun internasional. Pada masa penjajahan Indonesia oleh Belanda, Belanda pun dalam melancarkan aksinya menggunakan strategi politik perdagangan. Dalam hal ini VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai peran dalam menjalankan politik perdagangannya di Indonesia. Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah badan dagang saja, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misalkan VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.
            Dalam menjalankan kegiatannya di Indonesia, VOC menghadapi suatu dunia perdagangan internasional dengan sistem terbuka. Objek utama dalam politik perdagangannya di Indonesia adalah rempah-rempah, akan tetapi tidak terpisah juga dengan perdagangan beras, sagu, kain, dan komoditi lainnya. Perdagangan bangsa Belanda di Indonesia dan di Asia pada umumnya tidak berbeda dari perdagangan bangsa-bangsa lainnya. VOC merupakan kongsi dagang di antara kongsi dagang lain milik bangsa Gujarat, Iran, Turki, Tionghoa, dan Indonesia sendiri.
            Dinamika perdagangan di Indonesia pada waktu itu memang rumit, Indonesia yang kaya akan rempah-rempah dan beraneka ragam komoditi lainnya menjadi sorotan bagi bangsa Barat. Selain itu bangsa Gujarat dan Benggali juga ikut serta dalam arus perdagangan. Pedagang dari Gujarat dan Benggali mendatangkan bahan kain. Hal ini terjadi sebelum kedatangan bangsa Barat. Kemudian dengan adanya keadaan tersebut sebagian fungsi jatuh ketangan Portugis.
            Garis Malaka-Maluku menjadi dua basis pemusatan perdagangan dan pelayaran yang mempunyai fungsi yag sangat strategis. Garis Malaka-Maluku secara struktural merupakan sistem yang berfungsi secara optimal. Maka kemudian tumbuhlah subsistem-subsistem dengan pusat-pusat kecil sebagai pendukung dan komplemen dalam sistem tersebut. Dalam menghadapi sistem tersebut, maka VOC dalam usahanya menguasai perdagangan rempah-rempah, menduduki kedua basis tersebut, Maluku dahulu serta Malaka kemudian. Dalam melancarkan usahanya tersebut VOC juga menentukan alternatif lain sebagai pengganti Malaka, yaitu Batavia.
            Dalam usahananya, VOC menghadapi kesulitan menerobos sistem perdagangan yang berlaku. Dengan kontrak-kontrak hendak diperoleh monopoli, namun selama tidak ada dukungan kekuatan politik maka tidak akan berjalan pelaksanaannya. Di kalangan VOC sendiri banyak yang menentang penggunaan kekerasan. Namun pada kenyataannya VOC memang menjalankan politik dagang secara kejam yang merugikan rakyat Indonesia. Selain itu VOC juga ingin mengeksploitasi segala komoditi yang ada, khususnya rempah-rempah.
            Dengan adanya kesulitan tersebut, jalan radikal untuk merebut monopoli ialah melarang semua pengangkutan barang dagangan Portugis dengan kapal pribumi, kemudian semua ekspor rempah-rempah dihentikan, bahkan yang lebih drastis lagi yaitu pohon-pohon pala dan cengkeh ditebangi. Selain itu juga ada saran untuk mengikuti jejak Portugis yaitu menukar rampah-rempah dengan bahan pakaian dan bahan makanan. Selain itu juga ada politik radikal lain yang dipertimbangkan, yaitu untuk membatasi dan mengendalikan pedagangan Asia seperti yang telah dijalankan bangsa-bangsa Asia dan Portugis sejak lama. Namun hal tersebut terbentur dengan kelemahan angkutan VOC yang serba kekurangan awak kapal, amunisi, dan kapal sehingga tidak dapat mengawasi dan memberlakukan sanksinya.
            VOC memang menjalankan politik dagang secara kejam. Mereka juga memerangi (membunuh) para pendatang Portugis, Spanyol, dan Inggris yang mencoba mencari rempah-rempah. Kapal-kapal mereka ditenggelamkan di laut dan menghukum secara keras para penyelundup yang mencoba melakukan perdagangan rempah-rempah secara tidak resmi dengan pihak di luar VOC.
            Pembelian rempah-rempah dengan mata uang logam ternyata merugikan VOC. Rakyat menabung hasil penjualannya, dan dengan mata uang tabungan mereka membeli bahan pakaian dari Portugis atau edagang bangsa lain. Karena keuntungan VOC dari penjualan bahan pakaian tesebut, maka politik itu akan memukul dirinya sendiri, karena rakyat lebih memilih membeli bahan pakain ke Portugis. Untuk mengatasi hal tersebut kemudian diboronglah bahah tersebut lebih dulu dari Inggris dan Portugis.
            Akan tetapi hal tersebut juga tidak menguntungkan karena persediaan remah-rempah yag menunggu pengangkutan masih banyak. Langkah lain untuk mengatasi hal ini adalan dengan memblokir Selat Malaka dan perdagangan Portugis. Dengan adanya keadaan tersebut maka akan menguntungkan bangsa Barat lainnya, pedagang Jawa, Gujarat yang bebas dari persaingan Portugis dan mereka dapat bergerak secara leluasa.
            Penggunaan kekerasan dalam politiknya mulai terlihat pada prakteknya di kepulauan Banda. Sewaktu diketahui bahwa kontrak rakyat Banda dengan VOC tidak diindahkan dan masih melakukan perdagangan dengan pedagang Asia. Para direktur VOC menganjurkan agar rakyat Banda dimusnahkan dan pulau Banda tersebut kemudian ditempati oleh penduduk lain. Selain itu ketetapan harga juga ditentukan sepihak oleh VOC, hal tersebut bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku yaitu tawar-menawar.
            Untuk melancarkan anjuran para direktur VOC, kemudian pada waktu mau memonopoli rempah-rempah di kawasan Timur Indonesia mereka menjalankan praktek politik dagang dengan cara membuang, mengusir, dan membantai seluruh penduduk Pulau Banda pada tahun 1620. Pulau itu kemudian kosong sehingga isinya cuma kebun-kebun cengkeh, pohon-pohon pala, dan tanaman-tanaman yang menjadi komiditas dagang orang-orang Belanda di pasaran Eropa. Penduduknya kemudian diganti oleh orang-orang Belanda pendatang yang mempekerjakan para budak sebagai buruh kasar perkebunan.
            Politik monopoli VOC ternyata tidak menjamin adanya keuntungan yang besar, pada waktu itu kondisi perdagangan di Eropa menunjukkan pasaran rempah-rempah yang membanjir, sehingga merosotkan harga penjualan disana. Menghadapi keadaan tersebut maka VOC berusaha mengalihkan kegiatan perdagangannya ke perdagangan komoditi di Asia. Selain itu VOC juga mencoba menarik perdagangan pribumi dan bangsa Asia ke pusat-pusat yang dikuasainya, seperti Batavia dan Ambon, dengan tujuan menarik pajak dan keuntungan lainnya.
            Penetrasi VOC dalam jaringan perdagangan di Indonesia memang membawa konflik-konflik dengan pusat-pusat perdagangan yang memegang peranan penting dalam stasiun tengah jalan antara Maluku dan Malaka. Salah satu urat nadi dalam sistem itu ialah perdagangan beras dan bahan makanan yang terutama dipegang oleh pedagang Jawa, khususnya pada abad XVII dari Gresik-Jaratan dan surabaya. Dengan adanya keadaan tersebut maka kemudian VOC memiliki pandangan bahwa dominasi pedagang Jawa itu perlu dipatahkan.
            Perdagangan di Indonesia kemudian menimbulkan hubungan yang erat dalam proses Islamisasi daerah. Yang erat hubungannya dalam hal ini adalah perlawanan terhadap penetrasi bangsa Barat, yang dibarengi ooleh proses Kristianisasi. Kegiatan politik perdagangan VOC di Indonesia melibatkan beberapa daerah, seperti Maluku, Banda, Gresik, Jaratan, Surabaya, Ambon, Makassar, Jambi, Jepara, Batavia (Jakarta), dan Banten. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang menyimpan banyak komoditi.
            Penetrasi VOC dalam jaringan perdagangan Indonesia dalam bagian pertama abad XVII menghadapi juga persaingan. Yaitu perlawanan dari pedagang Asia non Indonesia, seperti Gujarat, Keling, Benggali, dan Cina. Komoditi yang mereka kuasai ternyata mempunyai nilai tukar tinggi di Indonesia maka haalhandel ternyata sangat menguntungkan, sering melebihi perdagagan rempah-rempahnya. Kedua jenis perdagangan tersebut terjalin erat satu sama lain sehingga politik monopoli VOC dalam rempah-rempah mau tak mau diperluas mencakup komoditi-komoditi dari perdagangan Asia.
            Sejajar dengan perluasan perdagangannya, VOC beroperasi dengan angkatam kapal dagang yang bertambah besar. Diantara angkatan kapal tersebut ada kapal-kapal yang berhenti di Batavia sambil menunggu keberangkatannya ke Nederland. Namun dibandingkan dengan tonage angkatan kapal lainnya, perkapalan VOC tidak terlalu besar volume angkatannya.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Vereenigde_Oostindische_Compagnie
Kartodirdjo, Sartono. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: PT. Gramedia

Selasa, 29 November 2011

HERMAN WILLEM DEANDELS, NAPOLEON DARI BATAVIA

Bangsa Indonesia sudah mengalami penderitaan yang cukup lama. Penderitaan tersebut tidak lain disebabkan oleh penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Belanda selama 3,5 abad. Dalam penjajahannya, bangsa Belanda memberlakukan penduduk Indonesia dengan sewena-wena. Mereka ingin mengeksploitasi segala apa yang ada di Indonesia. Para pemimpin-pemimpin yang dikerahkan oleh Belanda sangatlah kejam, rakus dan tamak. Mereka sangat licik, mereka ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari kepemimpinan tersebut serta menghindari segala kerugian dengan tidak memperhatikan nasib kaum penduduk pribumi Indonesia.
            Herman Willem Deandels adalah salah satu contoh figur jenderal yang memerintah dengan semena-semena. Dia bergabung menjadi salah satu perwira komandan legiun dalam “Legiun Batavia” yang dibentuk oleh ribuan orang Belanda yang terbuang dari kampung halaman mereka oleh kontrarevolisi 1787 yang dikontrol Prusia dengan tetara revolusi. Pada saat itu, tahun 1793 Republik Belanda mengikuti contoh Britania Raya dengan terjun dalam perang menentang Perancis yang revolusioner.
            Ketika terjadi berbagai ketimpangan ekonomi di Jawa yang, kemudian jenderal yang memimpin di pulau Jawa tidak lagi mendapat kepercayaan lagi oleh pemerintah. Pada waktu itu yang menjadi jenderal adalah Gubernur Jenderal Wiese. Kemudian melihat berbagai masalah yang ditimbulkan akibat kepemimpinan Gubernur Jenderal Wiese, Herman Willem Deandels pun diangkat sebagai penggantinya. Deandels tidak pernah tinggal di Timur, tetapi tampaknya dia jenis orang yang cocok untuk membersihkan Batavia yang busuk dan kotor,. Deandels merupakan orang baru yang berdiri diluar klik dan gang, yang tahu apa yang ia inginkan dan bertangan besi.
            Deandels tumbuh menjadi perwira diktator model Napoleon. Dia masih bicara dalam ungkapan-ungkapan matang bahasa revolusioner, tapi baginya semua itu sudah jadi slogan tanpa makna. Deandels tiba di pelabuhan Banten pada tahun 1808. Begitu ia tiba, ia segera mengambil keputusan untuk meninggalkan Batavia dan pindah ke Buitenzorg. Raja louis memberikannya kekuasaan yang luar biasa, sehingga ia terbebas dari Dewan Hindia. Dengan kekuasaan tersebut kemudian Deandels segera mereorganisasi Dewan Hindia tersebutdengan memberikan Dewan penasehat saja. Kemudian dia mulai memberantas korupsi, menghancurkan dan membangun kembali administrasi, membangun jalan dan benteng. Dia mengerjakan semua itu dengan menganggap dirinya sebagai diktator.
            Dalam bidang hukum, dia juga melakukan reorganisasi, seperti memisahkan kelompok penduduk yang berbeda dalam urusan peradilan. Dia memberikan setia kabupaten, dan diatas kabupaten, setiap prefektorat, pengadilannya sendiri yang terdiri atas orang Indonesia dengan dua anggota orang Eropa di pengadilan-pengadilan prefektorat. Dalm pemerintahannya, Deandels mempunyai pandangan yang terlalu berlebihan tentang kedudukan dan kekuasaannya. Dia seenaknya mengabaikan perjanjian dagang yang disepakati oleh wakil Hindia Timur di Amerika Serikat dan telibat dalam konflik pribadi dengan beberapa pejabat utama di Jawa.
            Dia melakukan hal-hal yang dia larang keras dilakukan oleh bawahannya. Meskipun dia memeroleh yang sangat besar dalam pemerintannya, namun dia masih merasa belum puas. Dia sangat kikir da serakah. Dia menganggap gajinya masih rendah dibandingkan apa yang telah ia lakukan kepada bangsa. Kemudian dia merampas tempat peristirahatan Buitenzorg yang akan dijual kembali pada pemerintah. Dalam transaksi ini dia memperoleh keuntungan yang cukup besar. Dia mengangga kedudukan dirinya berada diatas hukum yang kemudian menyebabkan kejengkelan orang Belanda maupun Jawa. Dia juga tidak mau mengadakan kerja sama jika kerja sama tersebut tidak menguntugkan diri. Sikap Deandles yang seperti ini juga menimbulkan rasa kebencian oleh para Raja Jawa.
            Dalam kehidupan sehari-hari, kompeni menghormati para Raja. Akan tetapi, Deandels bertentangan dengan hal tersebut. Ia membuang jauh-jauh aturan tersebut. Dia beranggapan bahwa aturan tersebut akan membuat semakin naiknya harga diri para raja, sedangkan hak-hak Belanda akan keropos. Karena dia tidak menghormati para Raja, Dia juga tidak menghormati perjanjian-perjanjian yang ada. Deandels menuntut Sultan Banten untuk mengerahkan tenaga sebanyak-banyaknya untuk memperkuat benteng di sepanjang pantai Selat Sunda.
            Penderitaan bangsa Indonesia tidak cukup disini saja. Sifat kejam Deandels yang menginginkan segala yang ada di Indonesia kemudian disalurkan dengan adanya “Tanam Paksa”. Dia memaksa para petani untuk menanam kopi, namun para petani tersebut tidak dibayar. Hal ini dilakukan untuk memungut pajak dari para petani miskin. Selain tanam paksa, Deandels juga menyuruh melakukan penyerahan paksa kopi oleh para petani kepada negara. Deandels memperkirakan langkah ini akan mengurangi jumlah hari dimana setiap orang harus bekerja di perkebunan, tapi pada saat yang sama dia menambah jumlah pohon kopi. Dia juga menyuruh kerja rodi kepada para penduduk untuk membuat jala raya dari Banten Barat sampai Pasuruan di Timur.
            Deandels memang peniru revolusi Perancis dan Napoleon. Gubernur Jenderal yang diktator ini yang telah membuat keadaan ekonomi di Jawa menjadi kacau, mempunyai alasan utama kehadirannya di Jawa adalah keadaan parah pertahanan koloni. Akhirnya Napoleon memutuskan untuk memulangkan Deandels dan kemudian menggantikannya dengan orang yang bersifat moderat. Dia mengirim Jan Willem Jansens, yang sebelumnya telah menjadi Gubernur provinsi Cape Colony. Setelah tiba di Jawa, hal sama dialaminya oleh Jan Willem Jansens.

Sumber : Vlekke, Bernard H.M. Nusantara, Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Mahasiswa di 74 Perguruan Tinggi Terima Beasiswa

Sebanyak 488 mahasiswa dari 74 perguruan tinggi di Indonesia menerima Beasiswa Plus dari Djarum Foundation. Para mahasiswa ini berasal dari 39 kota di 24 provinsi di empat pulau Indonesia yakni Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka terpilih dari 4.164 pelamar. Para penerima beasiswa yang biasa disebut Beswan Djarum akan menerima sokongan dana sebesar Rp750 ribu per bulan selama tahun ajaran 2011/2012. Beasiswa diberikan hanya selama satu tahun.


Selain beasiswa, selama satu tahun para mahasiswa juga menerima sejumlah keuntungan. "Kami juga memberikan pelatihan soft skills dan kesempatan membangun jejaring sosial atau networking dengan beswan lainnya di Indonesia," ujar Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Primadi H. Serad di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/11/2011). Menurut Primadi, program beasiswa yang tidak hanya mengandalkan dana segar merupakan cara untuk memperlengkapi mahasiswa memasuki dunia kerja. Dalam program soft skills, mahasiswa diberikan pelatihan kepemimpinan, menulis, dan motivasi diri.
"Kami sangat menekankan pentingnya soft skills untuk mereka. Karena berdasarkan survei, kebanyakan perusahaan tidak mencari akademik dan pengalaman, tapi semangat dan komitmen. Inilah yang kami ajarkan di soft skills," jelasnya.


Salah satu penerima beasiswa untuk tahun ajaran 2011/2011 adalah Bonita. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini mengaku bangga menerima Beasiswa Plus. "Saya merasa bangga terpilih karena melalui proses penyeleksian yang ketat," jelasnya. Djarum Beasiswa Plus merupakan program Corporate Social Reponsibilities (CSR) dari PT Djarum. Beasiswa yang diberikan sejak 1984 ini telah menelurkan sebanyak 6.786 alumni. Beasiswa ini hanya berlaku untuk mahasiswa semester lima di perguruan tinggi Indonesia, mempunyai IPK minimal 3,00, serta aktif berorganisasi di kampus.


Primadi menjelaskan, Djarum hanya menargetkan mahasiswa semester lima karena mudah terpantau. "Ketika semester lima, mahasiswa sudah terlihat prestasi akademisnya. Selain itu bisa terlihat apakah dia aktif dalam organisasi kampus atau tidak," jelasnya. Untuk tahun ajaran 2011/2012, Djarum Beasiswa Plus mengadakan kegiatan Nation Building di Semarang, Jawa Tengah pada 25-29 November 2011. Di acara bertema Indonesia Digdya ini, mahasiswa mendapatkan wawasan kebangsaan dan Pancasila. Mereka mengikuti talk show dan diskusi kebangsaan. Mereka juga melakukan kunjungan budaya ke Kota Kudus, dan pagelaran seni dalam acara Malam Dharma Puruhita. Diharapkan, dengan adanya acara ini generasi muda semakin mencintai dan mengenal pluralitas Indonesia.

Main Bareng Beckham, Judika Rela Mukanya Ditendang

Sebagai penggemar klub sepakbola Manchester United, penyanyi Judika mengaku sangat bangga dengan kedatangan David Beckham ke Tanah Air.

"Saya bangga Beckham datang ke Indonesia, apalagi saya fans fanatiknya Manchester United, bekas klubnya dia dulu," ujar Judika saat ditemui di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2011).

Karena itulah, Judika akan menyaksikan secara langsung pertandingan antara Timnas Indonesia Selection melawan klub suami Victoria Beckham saat ini, LA Galaxy. Bahkan bila ada kesempatan ia ingin sekali berjabat tangan dengan pesepakbola asal Inggris itu.

"Karena itu saya adalah salah satu orang yang pasti akan hadir menonton dia (Beckham) di Senayan dan kalau bisa saya ingin bersalaman sama dia," harapnya.

Bahkan, kekasih Duma itu berkhayal ingin bermain bersama Beckham. Ia merasa senang bila khayalannya terwujud yakni, bisa satu lapangan dengan mantan pemain Real Madrid itu. Apalagi menjadi pemain sepakbola merupakan cita-citanya sejak dahulu.

"Tadinya malah pengen main melawan Beckham. Paling enggak muka saya ditendang Beckham pakai bola juga enggak apa-apa. Paling enggak saya bisa ngerasain satu lapangan dengan Beckham karena cita-citaku dulu kan jadi pemain bola. Kalau enggak nyanyi pasti sekarang aku udah jadi pemain bola," akunya.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com